Kamis, 15 Maret 2012

Tak seindah negri dongeng


Senja yang dingin kota yang terguyur hujan bagaikan tubuh dimandikan titik-titik air sower di kamar mandi,  hapuskan penat siang yang panas dan gerah. Semilir Angin meraba menyentuh sekujur kulit menegakkan bulu-bulu roma. Menyapa mendekap menciumi sekujur tubuh yang ringkih nan rapuh. Sayup-sayup sahdu murotal mutiara-mutiara langit yang memperkaya jiwa-jiwa yang miskin. gelombangnya mengetuk daun telinga mengucapkan salam permisi masuk  bergemah di gendang telinga. Pagarku basah dengan titik air hujan serupa berlian-berlian putih jernih menetes ikuti gaya grafitasi bumi. Berbincang pelan dengan tiap bebatuan jejalanan, atap-atap pelataran dan dedaunan. Tetesannya memuncuat-cuat menggoda lawan bicara. Katak-katak bersuka ria bernyanyi menari dan berpesta menyambut kejayaan. Bersyukur atas segala cinta. Berharap hujan kan hapuskan segala luka, melahirkan semangat kasih sayang yang tak terkira.
Kisah cintaku tak seindah dongeng. Tak cinderala, tak rapunsel, tak putri salju tidak juga putri tidur. Kisahku lebih seperti Qois dan laila. Qais tal elak mengemban julukan majnun karena ketidak mampuannya hadapi cinta yang meluap-luap melebihi volume hatinya pada laila. Seumur hidup dalam sisa hidupnya terasing dengan kegelapan, terusir, kesepian bertemankan binantang-binantang buas, panas dingin alam yang meremukkan tulang-tulang dan persendihannya namun untungnya semua itu tak mampu meracuni dan melumpuhkan hatinya yang hanya dibingkai, dibekukan dan diawetkan untuk laila. Keberadaan nafasnya hanya karena masih adanya bayangan laila dalam imajinasinya yang mengkristal terhadap kekasihnya yang cantik jelita. Laila yang hanya seorang belia sebesar apapun balasan perasaan cintanya pada Qais, ingin hati menampung seluruh muatan cinta pria pujaan hatinya itu namun apa daya dia tidak mampu menghancurkan besi-besi jeruji penjara yang dibuat adat kepadanya.  Aku mencintai bulan, takjub dengan cahayanya yang mempercantik malam. Jatuh hati dengan stilenya sebagai indeks waktu. Kadang sempurna,dan kadang purnama, kadang sabit bahkan kadang tiada. Dengan setia menemani dan menjaga saudara-saudara kecilnya yaitu bintang gumintang yang menghangatkannya.Harap gapai bulan, memeluknya dan bawakannya pulang. Gantung di dinding kamar agarku bisa tersenyum saat mata ingin berpejam. Malang sungguh tak dapat ditolak, untung sungguh tak dapat diraih yang ku dapati malah bulan indah yang semu. Aku mengejarnya bagai pemain bola menjemput bolanya di lapangan berumput. Rasa hati sudah menyentuh dan mendekapnya kelihatan nyata, sempurna dan dekat namun aku malah tengelam kedalam kubangan air yang dalam, tak mampu berenang menyelamatkan diri, peri hidung menghirup berliter air, pusing terbentur batu dinding, ku temukan bulan impianku dalam sumur  yang jauh dari rumahku. Di sebuah negri asing dalam sebuah kemusafiran.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar