Kamis, 15 Maret 2012

RESENSI FILM NEGRI 5 MENARA

RESENSI FILM NEGRI 5 MENARA
Film Negri lima menara ini diadopsi dari novel karangan Anwar Fuadi. Novel  pembangun semangat yang mengajarkan agar setiap oarang berani untuk mengejar mimpi-mimpinya. Novel dengan  setting tahun 80 an yang disuguhkan dengan mengharu biru, jenaka dan sangat nyata dengan nuansa pondoknya yang kental. Ceritanya berawal dari seorang anak dari keluarga sederhana tinggal di pedalaman pulau Sumatra tepatnya daerah Maninjau. Dia bernama Alif yang setelah lulus SD ingin meneruskan sekolahnya di Bandung dan berkuliyah di ITB yang sangat mengidolakan sosok Presiden ke-3 RI BJ Habibie. Namun kedua orang tuanya berkehendak lain, mereka berdua ingin mengirim Alif ke sebuah pesantren di Jawa yang bernama pondok pesantren Modern Madani. Karena mereka sangat terinspirasi dengan sosok Buya HAMKA, dan prihatin dengan keadaan umat. Awalnya Alif menolak dan sempat berontak karena dia tidak mau sekolah agama namun setelah diberi nasehat oleh bapaknya akhirnya dia mau masuk pesantren dengan berbekal uang hasil penjualan kerbau satu-satunya milik keluarganya.

Alif berangkat ke pondok diantar oleh bapaknya naik bis sampai di Ponorogo tempat pondok tersebut berada. Pondok khusus laki-laki yang memiliki ribuan santri dari penjuru Indonesia. Di pondok itu dia bersahabat dengan lima orang teman yaitu Baso, Raja, Dulmajid,dll..yang satu kelas dan satu kamar dengannya.  Di sana mereka bertemu dengan ustadz Salman Ali yang menjadi wali kelas mereka, ustadz yang mengajarkan mereka sebuah matra ajaib yang menumbuhkan spirit besar dalam hidup mereka yaitu matra “man jadda wajada” semangat itu dianalogikan dengan sebuah pedang tumpul yang digunakan untuk memotong sebongkah kayu, yang akhirnya bisa terpotong walaupun membutuhkan tenaga yang cukup keras. Di pondok diajarkan disiplin yang tinggi dalam hal apapun baik dalam hal ibadah, belajar dan lain-lain. Saat awal mereka masuk pesantren mereka sangat ingat betul wejangan pak Kiyai Lutfi yang mengatakan belajar di pesantren ini bukan hanya belajar tentang agama, namun di sini kalian akan diajarkan bagaimana hidup, bagaimana menjadi pemimpin dan bagaimana bermasyarakat. Dan tahukah kalian siapa pemimpin yang sukses itu? Pemimpin yang sukses itu bukanlah pengusaha yang memiliki banyak pabrik, bukan Seorang pejabat, namun orang-orang yang memiliki ilmu yang kemudian mengajarkannya ke plosok-plosok daerah atau dimanapun dia berada.

 Enam anak ini menjuluki diri mereka dengan Shahibul Menara (Para Pemilik Menara) dan berjanji suatu saat nanti akan berfoto di bawah menara di negri-negri yang mereka ingin kunjungi. Mereka yakin bisa melakukannya dengan semangat man jadda wajada. Keenam orang ini saling mendukung, setia kawan, saling memperhatikan. Baso berasal dari Goa Sulawesi Selatan yang sehari-hari selalu membawa Al-Quran untuk dihafalkan. Dia sangat lemah dalam bahasa Inggris namun dengan semangat man jadda wajada dan dorongan teman-temanya dia diikutkan lomba pidato bahasa Inggris dan memenagkannya dengan meraih juara 2. Alif mesih belum sepenuhnya krasan di pondok namun dia ingin mencoba setahun menjalanainya di sana. Dari ke 5 temannya dia yang bahasa Inggrisnya paling jago. Alif juga mengikuti eksta kulikuler sekolah yaitu jurnalistik majalah Syam. Dengan sifat kritis dan fokal mereka banyak melakukan inovasi mulai menghadap Kiyai Lutfi masalah Jenset yang sering mati, kemudian Kiyai Lutfi membelikan alatnya dan mereka memperbaikinya sehingga listrik tak pernah mati lagi. Mereka juga mengusulkan nonton bareng piala Tomas bulu tangkis pondok dengan alasan agar tumbuh sikap heroisme pada jiwa santri.

Akhir ajaran kelas satu selesai. Baso menjadi juara kelas dengan nilai yang bagus. Saat ke lima shahibul menara beristirahat di bawah menara, Baso datang membawa selebaran pengumuman pementasan drama. Dia mengusulkan agar angkatan kelas 2 juga mengikutinya. Lagi-lagi dengan semangat man jadda wajada. Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti derama tersebut.  Klimaks masalahnya saat pementasan drama yang penggagasnya adalah Baso, tiba-tiba Baso dijemput oleh tetangganya untuk pulang ke Sulawesi. Teman-temannya kaget dan mendatanginya. Baso mengatakan bahwa dia harus pulang karena neneknya sakit keras dan tidak ada yang merawatnya. Dia adalah cucu satu-satunya. Ayah dan ibunya sudah meninggal sejak dia kecil. Dia dibesarkan oleh neneknya. Dan dia tidak memiliki saudara sama sekali untuk bisa membantu merawat neneknya yang sedang sakit keras. Karena itulah selama ini dia tidak pernah ada yang mengirim surat dan tidak ada tang mengunjunginya di pesantren. Dan orang tuanya yang sudah meninggal adalah alasan untuk dia mati-matian menghafalkan Al-Quran 30 jus, yaitu untuk memberikan kemuliaan kepada kedua orang tuanya di akhirat kelak. Dengan berat hati dan rasa kepedihan dan kehilangan yang mendalam mereka melepaskan kepulangan Baso ke kampung halamannya.

Mereka kehilangan satu sahabat mereka yang hebat. Dengan kehilangan salah satu sahabat tercintanya Alif semakin bimbng untuk meneruskan studinya di pondok. Dia mau pindah ke Bandung dan meneruskan studinya di sana. Alif sempat cekcok dengan teman-temannya atas kepindahannya. Namun karena jiwa setia kawannya dia tidak jadi pindah karena melihat teman-temannya sibuk sendirian mengurusi pentas drama kelas 2. Akhirnya dia memutuskan terus melanjutkan studinya dipondok dengan teman-temannya dan membantu mereka menyajikan pentas drama.

Baso yang berada di kampung halamannya sembari merawat neneknya yang sedang sakit keras juga mengajar ngaji anak-anak di sana. Dan masih memendam cita-cita besarnya dalam hati. Akhirnya setelah mereka  dewasa mereka berhasil berfoto di bawah menara mereka masing-masing. Alif menjadi reporter majalah VOA di Amerika, Raja Di Mesir, ....di Saudi Arabiah, Baso di jakarta dan sukses dengan metode Al-Qurannya yang terkenal. Dll.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar