Kamis, 15 Maret 2012

sastra arab


Sastra Arab
Dalam bahasa Arab kata yang paling dekat dengan pengertian sastra adalah kata adab (أدب) yang memiliki arti belles tatters atau susastra atau juga berarti kebudayaan (civilization)  atau dalam kata Arab lain, tamaddun (A.Teeuw, 2003: 19). Sementar dalam bahasa Indonesia , adab berarti kesopanan, kehalusandan kebaikan budi pekerti atau akhlak (Lukman Ali, 1994: 5). Secara historis, kata adab dalam bahasa Arab memiliki arti yang bermacam-macam sesuai dengan masanya dimana kata itu dipergunakan. Misalnya pada masa jahiliyah, orang  Arab menggunakan kata adbun yang berarti undangan untuk makan (الدعوة الى الطعام). Tradisi seperti ini merupakan suatu perbuatan yang terpuji dan bentuk moral yang tinggi. Karena pada dasarnya akan mendorong seseorang untuk menghormati dan memuliakan tamunya. Kata adab merupakan derivative (istiqaq) dari kata al-adbu berarti undangan ke pesta. Sementara menurut Nalino, Al-adbu berarti tradisi. Bentuk jamak dari kata adbun adalah ad’âb (أدآب), kemudian setelah mengalami  proses morfemis (I’lal) berubah menjadi adab. Karena seringnya dipergunakan kata adab, maka orang lupa asal mula bentuk mufrad-nya,  yaitu al-adbu, bukan adab  (Thaha Husain, tt: 22).
Pada masa permulaan Islam, kata adab mencakup makna pendidikan lisan dan pendidikan budi pekerti (akhlak), sebagaimana yang tersebut dalam hadis Nabi saw:
أدبنى ربي فأحسن تأديبي
Tuhanku telah mendidikku, kemudian menjadi baik pendidikanku
Makna kata adab yang berarti pendidikan lisan dan pendidikan budi pekerti pada masa permulaan Islam ada relevansinya dengan pengertian adab pada masa jahiliyah yang berarti undangan untuk menyantap makanan. Karena budi pekerti akan dapat terealisasi apabila seseoran menghormati tamunya dengan menghidangkan makanan kepadanya.
Pada masa Bani Umayyah, kata adab berarti pengajaran (تعليم), maka kata (مؤدب) sama maknanya dengan kata (معلم). Meraka yang mengajar anak-anak khalifah tentang syair, pidato dan berita-berita (al-akhbar) dan peristiwa-peristiwa penting yang menimpa orang Arab (ayyam al-Araby) disebut dengan (مؤدبون) pendidik. Pengertian pendidikan disini mencakup prilaku kehidupan yang baik, pendidikan budi pekerti, dn pendidikan lisan. Sebagimana yang dikatakan AbduL Malik bin Marwan kepada para pndidik yang sedang mengajar anak-anaknya:
أدبهم برواية شعر الأعشى
Ajarilah mereka tentang riwayat syi’ir al-A’sya.
Sementara pada abad ketiga Hijriyah, kata adab hanya digunakan untuk pengajaran sastra, yaitu syair dan prosa, serta yang terkait dengannya, diantaranya adalah al-akhbar dan al-ayyam  al-arab, yaitu peristiwa-peristiwa penting yang menimpa orang Arab (Abd al-Aziz:1405 H; 5).
Pada abad keempat Hijriyah, ilmu-ilmu kebahasaan, ansab (genealogi), akhbar, dan al-ayyam al-ayyam al-Arab melepaskan diri dari kajian adab, sehingga pada abad ini adab memiliki arti khusus dan arti umum. Kata adab mengandung arti khusus ialah kata-kata indah yang dapat dirasakan oleh pembaca dan pendengar, baik berupa syair atau prosa. Sedangkan adab dalam arti umum adalah hasil karya pikir manusia yang tergambar dalam kata-kata dan tertuang dalam tulisan. Kasidah yang menarik, pidato dan cerita yang mengesankan termasuk kategori adab dalam arti khusus karena mengandung nilai estetika. Sedangkan karya ilmiah berupa ilmu alam termasuk adab dalam arti umum, baik menimbulkan rasa indah dalam jiwa maupun tidak (Thaha Husain: 1952; 3).
SYI’IR ARAB
Kata “syi’ir” (شعر) menurut etimologi, berasal dari kata “sya’ara” atau “sya’ura”.(شعر أو شعر)
الشعر لغة من شعر و شعر – يشعر – شعرا و شعرا الرجل اى علم و احس به           
Artinya : “ Mengetahui dan merasakannya”.
Sedangkan menurut terminologi, disini dikemukakan beberapa pendapat para ahli bahasa dan kesusastraan Arab sebagai berikut:
الشعر هو كلام موزون قصدا بوزن عربي
Artinya : Syi’ir adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan wazan Arab (Ali Badri, 1984: 4)
الشعر هو كلام يقصد به الوزن و القافية
Arinya : Syi’ir adalah suatu kalimat yang sengaja diberi irama dan sajak atau qafiyah (Luis Ma’luuf, Loc.cit).
الشعر هو الكلام الموزون المقفى المعبر عن الأخيلة البديعة و الصور المؤثرة البليغة
Artinya : Syi’ir adalah suatu kalimat yang berirama dan bersajak, yang mengungkapkan tentang hayalan yang indah dan juga melukiskan tentang kejadian yang ada (Ahmad Hasan: 28).
أما المحققون من الأدبء فيخصون الشعر بانه الكلام الفصيح الموزون المقفى معبر غالبا عن صور الخيال البديع
Artinya : Sya’ir adlah suatu kalimat yang fasih, berirama, bersajak, biasanya melukiskan tentang khayalan/imajinasi yang indah (Ahmad al-Iskandary, 1916: 42).
الشعر هو اللغة الخيالية الموزونة التى تعبر عن المعنى الجديد و الذوق و اللفكرة و العطفة و عن سر الروح البشريةا
Artinya : Sya’ir adalah bahasa yang mengandung khayalan dan berirama yang menaigungkapkan tentang suatu arti dan perasaan serta ide yang timbul dari dalam jiwa seorang penyair (As-Saayib, 1963: 295).
الشعر هو كلام يقصد به الوزن و قافية و يعبر عن الأخيلة البديعية
Artinya : Sya’ir adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan atau imajinasi yang indah (Ali Badri. Loc.cid)
ANASIR AL-SYI’RI
Secara umum unsur-unsur intrinsik (al-anashir al-dakhiliyah) yang dapat membanggun suatu karya sastra baik genre puisi maupun genre prosa, yaitu: rasa (athifah), imajinasi (khayal), gagasan (fikroh) dan bentuk (uslub).  Unsur-unsur intrinsik di atas adalah unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra secara umum, artinya jika kita membicarakan unsur-unsur intrinsik genre puisi (syi’ir) secara spesifik, maka terdiri dari: 1) bahasa (kalam), 2) gagasan (ma’na), 3) irama (wazan), 4) sajak (qafiyah), 5) imajinasi (khayal) dan 6) sengaja (qasd). Begitu juga jika kita membicarakan tentang unsur-unsur intrinsik genre prosa, maka unsur-unsur yang membanggunnya adalah: 1) judul (al-mawdlu’), 2) pesan/moral (al-amanah), 3) plot/alur (al-habkah), 4) penokohan (al-syakhsiyyah), 5) latar/seting (al-khalfiyah) dan 6) gaya bahasa (al-uslub)
1) bahasa (kalam)
Pengertian kalimat/bahasa di dalam bahasa Arab menurut ahli nahwu adalah:
  الكلام هو اللفظ المركب المفيد فائدة يحسن السكوت عليها
Kalimat adalah susunan kata yang mengandung suatu pengertian dan tidak memerlukan penjelasan lagi.

Biasanya kalimat dalam bentuk prosa itu tidak jauh berbeda dengan susunan kalimat dalam bentuk syai’ir, hanya saja susunan kalimat dalam bentuk sya’ir itu diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan satuan irama dan sajak sya’ir.
Para penyair Arab yang akan digunakan dalam menyusun kalimat fasih, tidak menyalahi kaidah bahasa Arab, tidak menggunakan kata-kata asing (gharib) yang sulit untuk difahami artinya dan juga tidak menggunakan bahasa Arab pasaran (Amiyah), sebab kalau kemasukan kata-kata yang tidak dikehendaki tersebut, akan menimbulkan buah karya sastra yang cacat (Mas’an Hamid, 1995: 24).
 2) gagasan (ma’na)
Gagasan atau tema merupakan patokan utama untuk mengetahui karya satra. Sebuah karya sastra yang tidak memiliki gagasan adalah karya sastra yang lemah. Karya sastra yang sesungguhnya bukan susunan bahasa dan ungkapan semata, tetapi dia harus memberikan informasi baru tentang alam dan kehidupan, eksistensi, dan manisia. Pikiran dan gagasan yang terkandung dalam karya sastra hendaknya jelas dan relevan bukan yang bersifat plagiat atau tiruan (Ahmad Muzakki, 2011: 65).
3) Irama (wazan)
Irama berarti  panjang-pendek atau tinggi rendahnya suara (bunyi) secara teratur. Dalam puisi Arab  terdapat irama-irama yang spesial yang hanya dimiliki oleh puisi Arab. Irama-irama tersebut seperti lantunan nada-nada dan lagu-lagu. Sedangkan definisi wazan yang sesui dengan puisi Arab adalah:
البحر هو حاصل تكرار الجزء بوجه شعري . و إنما سمي ذلك بحرا لأنه يوزن به ما لا يتناهى من الشعر بما لا يتناهى من الشعر بما يغترف منه.
Wazan adalah taf’ilah arudl yang diulang-ulang dengan tujuan membentuk syi’ir. 
Irama (wazan) dalam puisi Arab disebut juga bahar, dinamakan demikian karena keberadaannya menyerupai bahar (lautan) yang apabila diambil segala sesuatunya, maka sesuatu tersebut tidak ada habis-habisnya. Demikian pula dengan seorang peyair, apabila sedang menciptakan buah karya syi’ir, maka inspirasi dan imajinasi yang muncul dalam jiwanya akan selalu menggelora dan terus berkepanjangan seakan-akan tidak ada titik akhirnya (Mas’an Hamid, 1995: 29).
Menurut Ahli arudl, wazan atau bahar syi’ir Arab Multazim (Tradisional) dibagi menjadi 16 macam, yaitu:

No
Bahar
Wazan
1
Thawiil
فعولن مفاعلن فعولن مفاعلن
2
Madid
فاعلاتن فاعلن فاعلاتن
3
Basiith
مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن
4
Wafir
مفاعلتن مفاعلتن فعولن
5
Kamil
متفاعلن متفاعلن متفاعلن
6
Hajaz
مفاعيلن مفاعيلن
7
Rajaz
مستفعلن مستفعلن مستفعلن
8
Ramal
فاعلات فاعلات فاعلات
9
Syarii’
مستفعلن مستفعلن مفعولات
10
Munsarih
مستفعلن مفعولات مستفعلن
11
Khafif
فاعلات مستفعلن فاعلات
12
Mudlara
مفاعيلن فاعلاتن
13
Muqtadlab
مفعولات مستفعلن
14
Mujtats
مستفعلن فاعلاتن
15
Mutaqaarab
فعولن فعولن فعولن فعولن
16
Mutadaarak
فاعلن فاعلن فاعلن فاعلن

4) Sajak (qafiyah)
Qofiyah menurut etimologi adalah :
القافية جمعها قواف : أي وراء العنق
Artinya: Tengkuk atau belakang leher
Sedangkan menurut terminologi qafiyah adalah:
Bagin (taf’ilah) terakhir dari suatu bait, yang dihitung mulai dari dua huruf mati yang terakhir dan satu huruf hidup yang ada sebelum kedua huruf mati tersebut (Mamduh Haqqy, Op.cit: 115).
5) imajinasi (khayal)
Imajinasi adalah kemampuan menciptakan citra dalam angan-angan atau pikiran tentang sesuatu yang tidak diserap oleh panca indra, atau yang belum pernah dialami oleh kenyataan (Panuti Sujiman, 1990: 36). Imajinasi merupakan unsur yang amat penting, ia dapat membantu manusia (sastrawan) untuk merekam peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang. Andaikata tidak ada imajinasi, niscaya kehidupan manusia menjadi miskin (M. Abd al-Mun’im Khafaji, 1995: 52). Imajitnasi adalah merupakan ungkapan jiwa atau bathin seseorang yang diungkapkan dalam bentuk susunan kalimat syi’ir. Biasanya kata-kata yang dipilih penyair itu mempunyai arti tersendiri baginya, yaitu kata-kata khusus yang memiliki intrepretasi. Bentuk khayal dalam syi’ir juga sering digambarkan dengan ungkapan yang berbentuk tasbih, istiaroh dan juga majas.
6) Sengaja (qasd)
Yang dimaksud dengan qasd disini adalah unsur kesengajaan penyair untuk menggubah syi’ir sesuai imajinasi yang menggelora dalam jiwanya dan menurut irama yang dikehendakinya. Unsur ini adalah merupakan unsur pokok di dalam syi’ir Arab, sebab suatu kalimat yang hanya berwazan dan berqofiyah kalimat yang hanya berwazan dan berqafiyah saja, tetapi tidak ada kesengajaan penyair untuk mengucapkan wazan tersebut, maka kalimat tersebut tidak bisa dinamakan syi’ir. Demikian pula apabila ada suatu kalimat yang berwazan yang diucapakan oleh orang yang tidak mempunyai perasaan untuk ber-syi’ir dan juga tidak mengetahui bahwa ucapan yangucapakan oleh orang yang tidak mempunyai perasaan untuk ber-syi’ir dan juga tidak mengetahui bahwa ucapan yang itu mengandung wazan, maka kalimat itu tidak dinamakan syi’ir, akan tetapi kalimat tersebut dinamakan prosa (nasr). Jadi susunan kalimat yangadi susunan kalimat yang kebetulan bisa dibaca atau dilag kebetulan bisa dibaca atau dilagukan menuruukan menurut wazan syi’ir yang ada, maka susunan kalimat tersebut belum dapat dikatakan syi’ir, kareelum dapat dikatakan syi’ir, karena belum memenuhi unsur-unsur yang diperlukan, diantaranya yang terpenting adalah unsur kesengajaan dan khayalan (Mas’an Hamid, 1995:42).   
Keistimewaan Puisi Arab Modern
Walaupun kemunculan dan keberadaan puisi Arab modern banyak diperdebatkan dan mendapatkan banyak perlawanan dari para penyair yang mengusung puisi Arab Klasik yang beranggapan puisi Arab modern hanya akan merusak tradisi puisi yang berbentuk bait-bait yang mempertahankan bentuk/struktural puisi dengan pemakaian wazan/bahr dan kofiyah, namun kemunculan puisi modern ini memang tidak dapat dielakkan lagi. Diantara faktor yang melatari  kemunculan puisi Arab modern adalah: pertama, kecenderungan romantis dan realis puisi Arab modern yang mendorong agar puisi yang diciptakan lebih berbobot, karena menyahuti lirik individual dan sosial dan juga mengandung gagasan-gagasan filosofis dan simbolik. Dan dengan adanya arud (matra lama Arab) maka hal ini akan agak terhambat. Kedua, kecenderungan para penyair modern Arab untuk memegang teguh prinsip licencia poetica (kebebasan berkarya) bagi para penyair (Abdullah al Gadami, 1991: 47).
Sedangkan keistimewaan puisi modern diantaranya adalah: pertama, puisi yang menggunakan gabungan banyak bahr (matra tradisional Arab) dalam dalam satu puisi atau puisi yang sama sekali tidak terikat oleh qafiyah (rima) dan bahr puisi dengan begitu puisi ini menampakkan kebebasan bentuk dan ekspresi dan isi dari puisi, sehingga puisi ini juga disebut puisi bebas. Kedua, menurut Mustafa Abdul Latif as-Saharti, puisi Arab modern telah mewadahi kepentingan ketajaman filosofis dan keindahan emosi dan imajinasi penyair secara sempurna. Ketiga, Memberikan warna baru bagi kazana puisi Arab khususnya bagi puisi Arab klasik yang sudah dirasakan menjemukan dan membosankan yang keindahan puitiknya telah kehilangan elan vital-nya bagi cita rasa puitik baru dan perkembangan gagasan-gagasan individual dan sosial.
SASTRAWAN-SASTRAWAN ARAB MODERN
Kholil Matron (1872-1949)
Dia dilahirkan di Ba’labak dan belajar di Zahlah saat ibtida’iyah, kemudian untuk meneruskan studi bahasa Arab dan bahasa Perancis dia pindah ke sebuah biara Katolik di Bairut. Dia menjadi murid dua sastrawan terkemuka saat belajar bahasa Arab yaitu Kholil dan Ibrahim.
Dia adalah aktifis pergerakan revolusi anti Usmaniyah. Dan untuk menghindari kemarahan raja, dia pergi ke Perancis pada tahun 1900 dan bergabung dalam organisasi pemuda Turki. Pada tahun 1902 dia meninggalkan Perancis dan pindah ke Mesir dan menetap disana.
Matron tampak dalam berbagai bidang, yaitu jurnalistik, ekonomi, perdagangan dan kesusastraan. Qasidah-qasidahnya dikumpulkan dalam volum dengan judul Diwan al Kholil (Antologi Kholil) pada tahun 1908, dia juga menerbitkan karangan-karangan sejarah, filsafat dan menerjemahkan beberapa teks-teks drama Skespier. Kholil Matron dijuluki dengan Sya’ir al Qatran(Seorang penyair Qatran). Tanpa dirahukan lagi, dia adalah salah satu sastrawan besar Arab modern.
Abdur Rahman Syukry (1886-1958)
Lahir di Bur Said dan menerima pelajaran ibtida’iyah dan tsanawiyah di Iskandariyah kemudian masuk Dar al Muallimin di Kairo sebelum dikirim ke Inggris untuk belajar bahasadi Inggris. Ketika dia kembali ke Mesir, dia menjadi mentri penndidikan sampai pensiun.
Dia menerbitkan antologinya dalam tujuh volum, yang pertama terbit pada tahun 1909 dan yang terakhir terbit pada tahun 1919. Syukry juga menulis kritik sastra dan menyebarkan diktat diktatnya dengan nama Musta’ar.
Abas Muhammad al- Aqod (1889-1974)
Lahir di Aswan, setelah menyelesaikan pendidikeran Ibtida’iyah dia berkerja sebagai guru agama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak lama dia meninggalkan pekerjaan ini dan beralih ke jurnalistik dan unggul di bidang kritikus. Pada saat partai wafad mengalami puncak kejayaan, ia menulis editorial politik di surat kabarnya. Dan dia meletakkan perselisihanya dengan pemimpinnya yaitu Saad Zaghlul, dan dijatuhkan hukuman 9 bulan atas serangannya terhadap raja Fuad   karena memperjuangkan kebebasan demokrasi.

Dia dikenal dengan berbagai karya-karyanya  yang  membahas  berbagai topik politik, sosial, sastra, filsafat dan agama. Karangannya pertama kali diterbitkan pada tahun 1916.
Dia juga menulis cerita yang berjudul “Sarah” yang diterbitkan pada tahun 1921, dia juga menulis karangan yang bernama Diwan kumpulan kritik yang menyerang para sastrawan dan para penyair tradisional.
Mustafa Lutfi al-Manfaluti (1876-1924),
Sastrawan dan ulama dari al-Azhar yang sudah amat dikenal di Indonesia, dapat digolongkan sebagai pengarang cerita-cerita pendek bergaya semi-klasik semi-modern. Ia, yang juga banyak menerjemahkan, sedikit banyak terpengaruh karya-karya pengarang Perancis abad yang lalu. Dalam perkembangan selanjutnya penerjemahan tidak hanya terbatas pada karya sastra Perancis, tetapi sudah meluas ke kawasan Eropa lainnya, terutama Inggris, Rusia, dan Jerman dengan prinsip mengutamakan terjemahan langsung dari bahasa asal.
Muhammad Husein Haekal (1888-1956)
Selain dikenal sebagai seorang sastrawan, ia juga dikenal sebagai wartawan terkemuka dan pemikir, sedangkan yang kemudian dapat dikatakan diwakili oleh Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1973) dan Ibrahim al-Mazini (1890-1949).
            Muhammad Husain Haekal selain besar pengaruhnya dalam sastra Arab mutakhir, juga mempunyai tempat yang penting dalam literatur Islam setelah serangkaian bukunya tentang studi-studi Islam terbit, terutama sekali bukunya yang berjudul Hayāh Muhammad (1936). Haekal dianggap perintis karya sastra modern setelah novelnya. Zainab, terbit (1914). Ia juga banyak menulis kritik sastra dan cerita pendek.







Referensi:
Mas’an Hamid, Dr, Ilmu Arudl dan Qawafi, Surabaya:  Al-Ikhlas, 1995.
Kamil, Sukron, Teori Kritik SastraArab, Jakarta: Rajawali Pres,2009.
Badwi, Musthafa, Mukhtarot min al Syi’ri al Hadis, Bairut: Dar al Nahar wa al Nusyusy, 2006
Muzaki, Ahmad, Pengantar Teori Sastra Arab, Malang: UIN Pres, 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar